Mencicipi Papeda di Pinggir Danau Sentani: Awas Lengket Tapi Nagih!

Perjalanan mencari kelezatan Papeda asli di Danau Sentani, Papua. Tekstur lengket, rasa gurih kuah kuning, dan pemandangan alam yang bikin hati tenang.

Perjalanan dari Jayapura menuju Danau Sentani memakan waktu sekitar satu jam. Tujuannya bukan sekadar liburan, tapi satu misi: mencicipi Papeda asli di rumah makan terapung milik Mama Yuliana.

Setelah duduk di atas perahu yang sudah jadi restoran sederhana, seporsi Papeda langsung datang. Awalnya saya ragu. Warnanya putih bening, seperti lem. Tapi Mama tersenyum dan bilang, “Jangan takut, ini enak.”

Saya diberi sumpit kayu bercabang. Belum genap 5 menit, saya sudah berjuang melawan kelengketan Papeda. Akhirnya Mama mengajarkan triknya: putar cepat, angkat, lalu celup ke kuah kuning. Dan... wow!

Rasanya gurih, lembut, dan hangat. Ikan kuah kuningnya segar, dengan rasa rempah yang pas. Saya makan dengan lahap sampai dua porsi. Jujur, Papeda bukan hanya makanan. Ini pengalaman. Setiap suapan seperti pelukan hangat dari tanah Papua.

Selesai makan, saya duduk santai di atas perahu sambil melihat Danau Sentani yang biru dan bukit-bukit hijau. Dan saya sadar, Papeda itu sederhana tapi berkesan. Lengket, unik, dan sangat khas Indonesia.